Pasca Satu Tahun Tsunami, Pantai Pesisir Selatan Banten Belum Dipasang Alat Diteksi Tsunami
SERANG – Sepanjang pesisir pantai Selatan Banten yang membentang di wilayah Wanasalam, Malingoing, Bayah hingga Cilograng belum terpasang alat diteksi tsunami atau Early Warning System (EWS).
Kabid Kesiapsiagaan Pencegahan Bencana Badan Penangguoangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten M. Juhriyadi mengatakan, alat diteksi gelombang tsunami yang dipasang pemerintah baru terpasang di pantai Anyer, Carita hingga Tanjung Lesung.
“Kalau alat pengukur gempa ada tapi kalau EWS (Early Warning System) belum ada karena belum dipasang oleh BMKG itu baru hanya sebatas Tanjung Lesung,” kata Juhriyadi saat dikonfirmasi, Kamis (26/12).
Namun dikatakan, Juhriyadi untuk intensity meter atau alat pengukur besar kecilnya getaran gempa dengan dilengkapi alarm kecil telah dipasang di wilayah Banten Selatan.
BPBD telah berkordinasi dengan industri PT Cemindo Gemilang di wilayah Bayah untuk menyalakan sirine jika sewaktu-waktu terjadi gelombang tsunami.
“Kalau untuk alat kecil-kecil intensity meter di pasang di kantor-kantor desa oleh BMKG berupa alat ukuran koper,” katanya.
Juhriyadi menjelaskan, pesisir pantai Banten memiliki kerawanan terjadi bencana gempa dan gelombang tsunami disebabkan megathrust yang merupakan zona tumbukan antara lempeng Indo-Australia. Selain Banten Provinsi NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bantul, Jogja sampai Jabar berpotensi terkena dampat bencana tersebut.
“Kalau mengacu kepada UU nomor 24 tahun 2007 semua lapisan masyarakat memiliki hak dilindungi dari resiko bencana sesuai dengan prinsif penanggulangan bencana tidak diskriminasi semua masyarakat harus dilindungi,” katanya.
Penulis :WR

