Curhat Guru Selama Belajar Daring: Banyak Tugas Siswa Yang Dikerjakan Orang Tua
Serang, – Tak terasa sudah satu tahun pandemik COVID-19, banyak kelompok masyarakat yang merindukan menjalankan aktivitas secara normal salah satunya yang dialami oleh para guru di Kota Serang.
Mereka mengaku merindukan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Sebab, ada sejumlah efek buruk yang ditimbulkan dari belajar daring atau belajar secara online dari rumah.
Kepala Sekolah SDN Sayar, Kota Serang Nina Rostianan mengatakan, yang paling menggelitik bagi dirinya pada saat pembelajaran jarak jauh setiap ulangan belajar, itu yang mengisi bukan siswanya, tetapi orang tuanya.
Hal itu diketahui dari tulisan jawaban yang diberikan kepada setiap guru. Dia merasa heran anak kelas 4 SD tulisannya sudah bagus.
Tapi setelah ditelusuri akhirnya mereka memahami. Memang, persoalannya ketika pembelajaran daring itu sulut memahami pembelajaran sehingga siswanya malas untuk ikut belajar, apalagi mengerjakan soal.
“Kebanyakan alasannya siswanya susah mengerjakan soal, jadi diganti sama orang tuannya,” kata Nina saat dikonfirmasi, Kamis (8/4/2021).
Kemudian, meski sekolahnya berada di wilayah Ibukota Provinsi Banten namun kendala susah sinyal masih menjadi faktor utama yang menghambat proses pembelajaran daring. Sebagai alternatifnya, mereka menggunakan metode pembelajaran di luar jaringan (Luring). Dengan segala keterbatasannya, pembelajaran Luring juga hanya bisa dilakukan dengan pemberian tugas, untuk kemudian hari yang sama atau keesokan harinya dikumpulkan.
“Kalau daring itu kami terkendala sinyal, susah banget di sini. Bahkan kadang ada, kadang tidak. Kalau mau dapet sinyal harus naik pohon dulu. Makanya kalau pembelajaran daring sering terputus, tidak kondusif,” katanya.
Sementara, Kepala Sekolah di SDN Tanjung Ilir, Kecamatan Taktakan Ida Farida menyampaikan, selain terkendala dengan jaringan, banyak siswa yang tidak mempunyai handphone sehingga tidak bisa mengikuti pembelajaran secara online.
“Dari total 265 siswa, hanya 25 persen saja yang mempunyai hp, selebihnya tidak punya,” katanya.
Untuk mengantisipasi efektivitas belajar itu, lanjutnya, pihaknya melakukan metode pembelajaran home visit dengan pembelajaran kelompok terbatas antara 3-5 siswa dalam satu kelompoknya.
“Meskipun home visit, tapi Prokes tetap menjadi hal yang prioritas kami utamakan,” katanya.
Hal itu dilakukan, mengingat materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa itu harus benar-benar bisa memahami pelajaran.
“Makanya kami kelompokan, antara yang sudah bisa membaca dan belum. Supaya materi pembelajaran yang disampaikannya bisa maksimal,” katanya.
Penulis: WR

