News

Tolong, Ibu di Pandeglang Idap Tumor Payudara dan Tak Bisa Berobat Ke RS

Serang, – Anis (41), seorang ibu dengan tiga anak hanya bisa berbaring menahan rasa sakit. Perempuan asal Kampung Cipurut, Desa Sanghiangdengdek, Pulosari, Pandeglang ini mengidap tumor payudara.

Sudah satu tahun terakhir payudaranya, membesar, memerah dan menimbulkan rasa sakit. Rambut Anis pun makin hari mulai rontok.

Yanti (20), keponakan Anis mengatakan, bahwa saudaranya tersebut sudah cukup lama menderita sakit tumor payudara, namun, karena keterbatasan ekonomi akhirnya dia tidak bisa menjalani perawatan medis di rumah sakit.

Selama ini, dia hanya menjalani pengobatan tradisional. Berbagai pengobatan alternatif sampai jampi-jampi pernah Anis coba. Namun, payudaranya tak kunjung mengecil bahkan mulai sakit.

“Bukan tidak mau tapi keluarga bener- gak mampu orang biasa saja,” katanya saat dikonfirmasi, Sabtu (10/4/2021).

Sementara, Arsa (51) sang suami Anis, hanya seorang penjual empe-empe pinggiran di Pasar Menes, Pandegalang. Kini, Arsa sudah berhenti jualan dan memilih untuk merawat anak dan istrinya yang sedang sakit. Untuk membiayai keluarganya Arsa bekerja serabutan dan mendapatkan bantuan belah kasian keluarga dan tetangga.

“Pendapatan sama sekali (tidak ada), punya anak 3 pertama umur 20 perempuan gak kerja, anak kedua kelas 1 SMK yang ketiga baru 6 tahun,” katanya.

Dia bercerita, sebelumnya pihak keluarga pernah membawa Anis untuk menjalani perawatan medis di puskesmas terdekat. Namun, puskesmas mengambil kesimpulan bahwa kondisi payudara Anis yanga membesar hanya efek dari pasca menyusui.

“Yaudah, pulang semoga besok atau lusa sembuh tapi lama kelamaan malah makin membesar. Sakit, memerah dan rambut rontok,” katanya.

Kemudian, pihak keluarga kembali berkonsultasi dengan pihak puskesmas, konsultasi kedua baru dokter puskesmas memvonis Anis menderita tumor payudara dan harus segera menjalani operasi di rumah sakit.

“Harus dibawa ke rumah sakit besar yang ada di Pandeglang kalau gak di Serang untuk biaya minimal 40 juta,” kata Yanti menirukan ucapan dokter puskesmas.

Pihak keluarga, memutuskan untuk merawat Anis di rumah karena tidak memiliki uang sebesar itu untuk biaya pengobatan rumah sakit. Pernah minta bantuan ke pihak desa malah diminta untuk membuat kartu BPJS sementara.

“Tapi BPJS sementara gak berlaku. Pernah dibawa ke rumah sakit cuma ditolak gak punya BPJS,” kayanya.

 

Penulis:WR

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *