News

Pesona Destinasi Wisata Sejarah Keraton Kaibon

Serang, – Banten memiliki banyak Destinasi wisata yang menarik untuk di kunjungi, buat kamu yang suka traveling atau berswafoto sekaligus ingin mengetahui sejarah Banten mungkin ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk mengisi hari libur di akhir pekan.

Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi saat berada di Banten adalah Keraton kaibon. Keraton kaibon sendiri merupakan jejak sejarah peradaban Banten hingga kini masih tersisa dan berdiri kokoh. Destinasi yang terletak di bibir pantai teluk Banten ini menawarkan cerita sejarah, pemandangan yang indah, serta gambaran kejayaan masa lalu.

Keraton kaibon juga menawarkan pemandangan taman yang begitu asri dan sejuk untuk pengunjung yang ingin menikmati suasana pagi hari.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti kapan pencanangan keraton kaibon dijadikan sebagai destinasi wisata. Namun, pada tahun 1990 sudah banyak orang datang ke kawasan Banten lama untuk wisata religi.

Mulangkara, pegawai Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Banten mengatakan, arti nama Kaibon merupakan keibuan yang artinya saat itu tempat ini dipersembahkan untuk kediaman ratu Aisyah pada tahun 1809 sebagai pusat pemerintahan kesultanan Banten di bawah pimpinan sultan Muhammad Syafiudin yang saat itu berusia 5 tahun, ia tinggal bersama ibunya yaitu ratu Aisyah karena keratonnya hancur diserang Belanda.

Pada tahun 1813 kesultanan Banten di hapus oleh Inggris digantikan dengan kadipaten Banten lor yang saat itu di pimpin Arya abdi Santika pada tahun 1816-1828. Setelah Inggris kalah Belanda membuat kota, salah satunya adalah kota serang.

“Disini ada 5 pintu gerbang yang melambangkan rukun Islam yg beraksitektur Jawa Bali yang saat ini menjadi lambang kota serang, keraton kaibon ini di kelilingi kanal ( sungai buatan ) yang mengelilingi keraton sebagai media transportasi air dan pertahanan,” katanya kepada Bantenstory, Rabu (25/8/2021).

Dia menyebutkan ada beberapa benteng yang sudah dicat dalam rangka konservasi dengan warna semula yakni warna putih dengan mendatangkan langsung bahan catnya dari Jerman. “Agar tidak merusak cagar budaya,” katanya.

Arif, salah satu pengunjung mengatakan, masih sedikit pengunjung yang sadar untuk menjaga bangunan bersejarah tersebut. Masih ada oknum yang mencoret-coret tembok bangunan yang menjadi saksi sejarah kejayaan Kesultanan Banten itu.

“Disini banyak lebihnya cuma kekurangan nya mungkin kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan apalagi ada yang coret coret tembok, ini kan cagar budaya harus di jaga” tuturnya.

Penulis: Devita Anggraini

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *