Jurnalis wargaNews

Sentra Industri Gerabah di Desa Bumi Jaya Ciruas

Serang, – jika anda penggemar seni kriya, boleh banget nih mampir di Sentra Industri Gerabah yang berada di desa Bumi Jaya, kec Ciruas kab Serang Prov Banten. Penduduk yang berada di desa ini banyak yang memproduksi gerabah, salah satunya adalah ibu Rodiat.

Usaha rumahan yang dimiliki ibu Rodiat ini terbilang cukup besar dan memiliki pegawai cukup banyak, kurang lebih sekitar 15 orang. Warga lain pun ada juga yang memproduksi gerabah, pengusaha gerabah Desa Bumi jaya rata-rata masih berusia produktif (22-63 tahun) dengan pendidikan rendah yaitu SD (77%). Usaha ini merupakan warisan secara turun-temurun yang masih dikembangkan hingga saat ini.

Bahan baku gerabah ini sendiri berupa tanah liat yang tersedia di wilayah tersebut yang memiliki kualitas baik. Karakteristik produk gerabah yang dihasilkan Desa Bumi jaya masih tergolong tradisional, desain hiasan khas yang populer adalah motif tumpal bergerigi dan ceplok dari teknik cap serta motif yang dihasilkan dengan teknik cubit serta teknik pewarnaan gelap dan warna merah tanah liat.

Produk gerabah jenis raksasa yang mencapai 2 meter dibandrol kurang lebih satu juta rupiah, gerabah Desa Bumi jayaya memiliki ketahanan yang kuat sehingga tidak mudah pecah ketika proses distribusi. Gerabah Desa Bumi Jaya hingga sekarang masih ada permintaan barang, baik dari Banten dan luar Banten, khususnya daerah Jakarta.

Rodiat pemilik industri rumahan gerabah tersebut mengatakan bahwa jenis-jenis gerabah yang di produksi bermacam-macam, salah satunya adalah gentong. “Disini bikinnya kaya gentong, guci, pot, cobek dan Masi banyak lagi,”Pungkasnya kepada Bantenstory Kamis, (02/09/21).

Di desa ini terdapat sekitar 100-an perajin gerabah yang dulu pernah jaya menjadi tujuan wisata seni kriya wisatawan asing. Jika anda berkendara dari wilayah serang hanya memerlukan waktu 30 menit untuk bisa sampai disini, selama perjalanan anda akan dimanjakan dengan hamparan sawah hijau yang indah membuat perjalanan menjadi menyenangkan.

Disana juga terlihat beberapa TNI AD sedang membeli gerabah, sersan satu Didik Iswanto mengatakan, “Kami kesini sedang ada kegiatan komunikasi karya dan prakarya, salah satunya gerabah disini, juga kebetulan mau beli pot untuk pembuatan taman di kantor,”tuturnya.

Dulu tempat ini banyak didatangi wisatawan, baik lokal maupun asing yang ingin mempelajari tentang proses pembuatan gerabah maupun historinya. Namun sekarang tempat itu terlihat sepi dari wisatawan, meskipun begitu produksi pembuatan gerabah ini masih berlanjut hingga saat ini.

Penulis : Devita Anggraini

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *