Advertorial

Dindikbud Kabupaten Serang Pastikan Angka Putus Sekolah Sudah Zero

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang dibawah kepemimpinan Dr. H. Asep Nugrahajaya, M.Pd., dan Sekretarisnya H. E. Kosasih, S.Pd., S.Sos., M.Ap memastikan angka putus sekolah di Kabupaten Serang sudah zero persen. Hal tersebut terjadi berkat serangkaian program kerja yang telah dilakukan selama ini, salah satunya program beasiswa pendidikan.

Kepala Dindikbud Kabupaten Serang, Dr. H. Asep Nugrahajaya, M.Pd., mengatakan, untuk tahun 2024 di dinasnya ada program baru ada berkelanjutan. Baik program baru maupun berkelanjutan sama sama masuk kategori prioritas dan non prioritas.

Namun untuk program prioritas, lebih banyak yang sifatnya berkelanjutan. Diantaranya hal hal yang berkaitan dengan dukungan terhadap pengurangan putus sekolah, beasiswa yang diberikan kepada peserta didik baik Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Itu berkelanjutan dan jadi program prioritas,” ujarnya.

Program prioritas tersebut digencarkan untuk mengantisipasi angka putus sekolah baik usia SD maupun SMP. Seperti diketahui bersama bahwa angka putus sekolah untuk di Kabupaten Serang sekarang ada di titik nol persen. Artinya sudah tidak ada lagi anak yang dinyatakan putus sekolah berdasarkan data statistik.

“Ini sudah dinyatakan secara resmi saat di Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2025. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Kabupaten Serang menyampaikan apresiasi kepada Dindikbud bahwa 2022 -2023 angka putus sekolah nol. Itu sebagai dampak dari supporting program prioritas di beasiswa,” ucapnya.

Ia mengatakan, angka putus sekolah berhitung dari rentang usia yang wajib sekolah di tingkat SD dan SMP. Yakni usia 7-13 tahun angka wajib SD. Pada rentang tersebut tidak ada anak putus sekolah. “Tidak ada anak Kabupaten Serang usia 7-13 tahun tidak sekolah karena tidak ada biaya. Kemudian tidak ada anak Kabupaten Serang usia 13-15 tahun yang tidak sekolah SMP karena tidak ada biaya,” tuturnya.

Dia meyakini, angka tersebut karena berasal dari data statistik atau BPS. Kondisi nol persen angka putus sekolah sudah terjadi sejak 2022. “Alhamdulillah, sejak beberapa tahun sebelumnya demikian. Saya bersyukur atas apresiasi kepala Bappeda Litbang,” jelasnya.(ADV)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *