HeadlineNews

UMKM Cilegon Bidik Pasar Eropa, Produk Lokal Disiapkan Tembus Den Haag

CILEGON — Pemerintah Kota Cilegon terus mendorong pelaku UMKM naik kelas. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (DinkopUKM) bersama Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Cilegon, Nur Kusuma Ngarasati Fajar atau Raras, memantau langsung pengembangan Dapoer Fathaya di Purwakarta dan Rabeg T’enG di Ketileng, Rabu (12/8/2026).

Monitoring difokuskan pada kualitas produk, legalitas, kapasitas produksi hingga perluasan pasar. Pemerintah menilai UMKM lokal tak cukup hanya bertahan di pasar daerah, tetapi harus disiapkan untuk bersaing secara nasional bahkan internasional.

Raras mengatakan produk UMKM Cilegon memiliki kualitas yang layak dibanggakan. Menurutnya, produk yang telah memenuhi standar legalitas dan keamanan pangan harus mendapat dukungan agar semakin luas dipasarkan.

“Ini produk yang harus kita banggakan dari Kota Cilegon,” kata Raras.

Ia juga mendorong pelaku usaha, pemerintah, industri, kafe, restoran dan masyarakat memperkuat penggunaan produk lokal. Raras menyinggung kebijakan yang mendorong porsi UMKM masuk ke sektor industri, kafe dan restoran.

“Kesadaran bersama untuk menggunakan dan memasarkan produk lokal menjadi langkah penting agar UMKM Cilegon semakin berkembang dan memiliki pasar lebih luas,” ujarnya.

Tak berhenti di pasar domestik, produk UMKM Cilegon juga mulai diarahkan ke pasar luar negeri. Raras menyebut produk unggulan daerah berpeluang diperkenalkan hingga Den Haag, Belanda.

“Insyaallah produk UMKM kita akan dikirim ke Den Haag, Belanda. Ini kesempatan untuk memperkenalkan produk unggulan Cilegon ke pasar internasional,” katanya.

Salah satu UMKM yang dipantau adalah Dapoer Fathaya. Produk usaha tersebut kini telah dipasarkan melalui sejumlah toko frozen, termasuk Freshmart Cibeber dan Kedai Fresh Mama Ima, serta melalui berbagai bazar.

Pemilik Dapoer Fathaya menilai dukungan pemerintah dan GOW menjadi motivasi bagi perempuan untuk tetap produktif dari rumah.

“Beliau sangat menginspirasi, khususnya mendorong wanita agar tetap berkarya dan berdaya dari rumah untuk membantu perekonomian keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, Rabeg T’enG milik Heriyah menjadi contoh UMKM yang berkembang melalui proses pendampingan. Usaha yang bermula dari bazar pada 2020 itu semakin berkembang setelah mengikuti program inkubasi DinkopUKM pada 2023.

Berbeda dari rabeg pada umumnya, Heriyah memilih menggunakan daging sapi agar produknya dapat dinikmati lebih banyak kalangan. Kemasan produknya telah melalui uji laboratorium di SIG Bandung dengan masa simpan mencapai 367 hari.

“Kami memilih inovasi daging sapi ketimbang kambing agar semua kalangan bisa menikmati rabeg ini,” kata Heriyah.

Rabeg T’enG juga mengembangkan produk lain, seperti keripik ganjat dan sabun pembersih. Usaha tersebut turut membuka lapangan kerja dan menerima mahasiswa untuk magang.

DinkopUKM Cilegon memastikan pendampingan terhadap UMKM akan terus dilakukan melalui pelatihan, fasilitasi legalitas, peningkatan mutu produk dan pembukaan akses pasar.

Targetnya jelas: UMKM Cilegon tidak hanya kuat di kandang sendiri, tetapi mampu membawa nama daerah hingga pasar internasional.

Editor: GBK

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *