Lima Tahun Menanti, Warga Blokir Jembatan Pamarayan Gegara Bedolan Batal
SERANG, – Ratusan warga memblokir akses Jembatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Sabtu (10/10/2026), sebagai bentuk protes atas batalnya tradisi Bedolan Pamarayan. Warga yang telah lima tahun menantikan pesta rakyat tersebut mendesak agar kegiatan tetap dilaksanakan.
Aksi yang berlangsung sejak pagi itu sempat memanas. Massa membakar ban bekas dan membentangkan pagar bambu untuk menutup jalan, sehingga mengganggu akses penghubung wilayah Pamarayan dengan Serang.
Protes berakhir setelah kepolisian memfasilitasi komunikasi antara warga, Pemerintah Kabupaten Serang, dan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWS C3). Bedolan Pamarayan akhirnya disepakati dijadwalkan ulang pada 17 Oktober 2026 selama tiga hari tiga malam.
Sejak pukul 07.00 WIB, warga mendatangi gedung kontrol Bendung Pamarayan, kantor Unit Pengelolaan Irigasi Daerah Irigasi Ciujung, BBWS C3, di Desa Panyebrangan, Kecamatan Cikeusal. Sejumlah warga membawa jaring dan peralatan menangkap ikan karena berharap tradisi tersebut tetap digelar.
Kapolsek Cikeusal, Iptu Haerus, mengatakan pihaknya telah berupaya mengamankan situasi dan menggelar audiensi dengan perwakilan masyarakat. Namun, warga tetap meminta Bedolan Pamarayan dilaksanakan dan ingin bertemu langsung dengan pemerintah daerah serta pengelola bendungan.
“Dari jam 7 pagi warga datang, tadi sudah dilakukan audiensi dengan perwakilan masyarakat, namun tetap ingin Bedolan tetap dilaksanakan,” ujar Haerus.
Bedolan Pamarayan semula dijadwalkan berlangsung pada 10 Oktober 2026 sebagai bagian dari rangkaian HUT ke-500 Kabupaten Serang. Namun, BBWS C3 memutuskan tidak melakukan pengurasan bendung dan tidak membuka pintu Bendung Pamarayan.
Keputusan tersebut tertuang dalam berita acara tertanggal 7 Oktober 2026, sebagai tindak lanjut surat persetujuan kegiatan Bedolan Pamarayan nomor HM0504/B/Bbws3/2026/887.
Dalam dokumen itu, BBWS C3 mempertimbangkan potensi bencana longsor akibat laju abrasi yang berkaitan dengan kegiatan Bedolan Pamarayan.
Ketua Tim Pelaksana Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air Unit Pengelola Irigasi Daerah Irigasi Ciujung, Tanto, menjelaskan pengurasan bendung berpotensi mempercepat aliran sungai dan memicu pengikisan di sejumlah titik.
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada rumah-rumah warga di tepi sungai, baik di wilayah hulu maupun sejumlah titik di hilir.
Selain faktor keselamatan, air yang tertampung di Bendung Pamarayan juga dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan pertanian. Karena itu, pelaksanaan kegiatan harus mempertimbangkan kondisi sungai dan ketersediaan air bagi masyarakat.
Menurut Tanto, pertimbangan teknis tersebut bukan untuk menghambat tradisi, melainkan demi keselamatan dan keamanan bersama.
Pembatalan Bedolan Pamarayan memicu kekecewaan masyarakat. Nasrul Hidayat (31), warga Desa Panyebrangan, mengaku sudah bertahun-tahun menantikan tradisi tersebut kembali digelar.
“Sudah lima tahun gak ada Bedolan Pamarayan,” katanya.
Menurut Nasrul, Bedolan Pamarayan bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, melainkan tradisi yang memiliki ikatan emosional bagi masyarakat. Warga yang merantau ke luar kota biasanya pulang ke kampung halaman untuk ikut meramaikan pesta rakyat tersebut.
Kapolres Serang, AKBP Andri Kurniawan, memfasilitasi komunikasi antara perwakilan BBWS C3, Pemerintah Kabupaten Serang, dan masyarakat hingga tercapai kesepakatan penjadwalan ulang.
“Diundur minggu depan,” kata Andri.
Ia mengatakan, pelaksanaan tradisi tersebut akan dikoordinasikan bersama pemerintah daerah dan BBWS C3 dengan mempertimbangkan aspek teknis. Sosialisasi kepada masyarakat juga akan dilakukan sesegera mungkin.
Selain Bedolan Pamarayan, warga mengusulkan kegiatan istighosah dan pesta rakyat yang mencakup hiburan wayang serta kegiatan UMKM. Persiapan lokasi dan fasilitas pendukung akan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah.
Tanto mengapresiasi komunikasi yang difasilitasi kepolisian bersama masyarakat hingga tercapai kesepakatan tersebut.
Dengan penjadwalan ulang ini, Bedolan Pamarayan direncanakan kembali digelar mulai 17 Oktober 2026 selama tiga hari tiga malam, dengan persiapan dan koordinasi lebih lanjut antara pemerintah daerah, BBWS C3, dan masyarakat.

