Blokade Jalan, Ratusan Mahasiswa di Serang Demo Tolak Kenaikan Harga BBM
Serang – Ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi berdemonstrasi di depan gedung DPRD Provinsi Banten, Senin (5/9/2022). Mereka menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang telah dilakukan pemerintah pada Sabtu (3/9/2022) lalu.
Mahasiswa yang menamakan diri sebagai Gempur Banten terdiri dari DPC GMNI Serang, HMI Serang, UMC, KMS-30, PP Hamas, dan beberapa organisasi internal kampus di Banten.
Setidaknya ada tuntutan mahasiswa ke pemerintah pusat, yakni menolak kenaikan harga BBM, turunkan harga pangan pokok dan berantas mafia penimbun BBM subsidi.
Orasi dilakukan secara bergantian oleh mahasiswa. Mereka juga menyanyikan lagu nasionalis dan perjuangan mahasiswa. Mereka sempat hendak masuk ke gedung DPRD Banten namun dihalau petugas kepolisian akhirnya membakar ban belas dengan memblokade seluruh badan jalan Syeh Nawawi Al Bantani dari arah Pandeglang ke Kota Serang.
Demonstrasi mahasiswa dijaga ratusan polisi dari Polda Banten dan Polresta Serang Kota. Setidaknya ada tiga pintu masuk yang ditutup, yakni pintu kesatu, kedua Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) dan gerbang Gedung DPRD Banten.
Setidaknya, ada dua mobil water canon disiagakan oleh polisi menjaga demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan BBM.
Humas Gempur Banten Muhammad Nurlatif mengatakan, saat ini masyarakat baru akan mulai bangkit usia diterpa badai pandemik COVID-19, pemerintah justru malah membuat kebijakan kenaikan BBM yang menyulitkan masyarakat ekonomi masyarakat bangkit.
“Justru pemerintah hari ini memberikannya pandemi lebih besar yaitu menaikan harga Bahan Bakar Minyak,” katanya.
Menurutnya, kenaikan harga BBM ini akan berpengaruh terhadap ongkos produksi dan ditribusi sehingga menyebabkan kenaikan komoditas pangan.
“Justru seharusnya pemerintah lebih kreatif dalam mengimbangi ekonomi yang hari ini terjadi,” katanya.
Ditempat yang sama, salah satu mahasiswa yang lain Dadang mengungkapkan, keputusan pemerintah memangkas dana subsidi BBM dan mengalihkan anggaran dengan memberikan bantuan langsung tunai (BLT) ke masyarakat justru tidak tetap. Alih-alih membantu malah sebaliknya menyengsarakan masyarakat.
“Tapi justru itu keliru dan tidak terlihat kreatif,” katanya.
Penulis:WR

