Pasca Satu Tahun Tsunami, Setatus Gunung Anak Krakatau Masih Waspada
SERANG – Gunung Anak Krakatau (GAK) masih terus melakukam aktifitas setelah satu tahun peristiwa longsoran sebagian tubuh gunung yang mengakibatkan gelombang bencana tsunami selat sunda.
Ketinggian gunung api purba di tengah perairan Selat Sunda itu sebelum longsor mencapai 338 meter dari permukaan laut (mdpl). Kemudian usai longsor dan menyebabkan gelombang tsunami, ketinggiannya berkurang menjadi 110 mdpl.
GAK kehilangan 2/3 ketinggian dan volume tubuhnya atau sekitar 150 hingga 170 juta meterkubik dan kala itu hanya tersisa 40-70 meterkubik. Kini, setelah satu tahun tsunami, ketinggian bertambah menjadi 157 mdpl dalam kurun waktu satu tahun.
Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), GAK masih mengeluarkan hembusan abu vulkaniknya hingga kerap terjadi aktifitas kegempaan.
“Untuk sekarang kegiatannya sedikit menurun, kegempaan nya didominasi hembusan dan low frekuensi saja. Untuk status masih waspada,” kata Kepala Pos Pantau GAK Lampung, Andi Suandi saat di konfirmasi, Rabu (25/12).
Meski hingga saat ini setiap hari GAK masih terjadi letusan dan kegempaan, namun pihaknya tidak menghitung berapa kali terjadi GAK gempa dalam setahun.
“Kalau setahun tidak ada (datanya), mungkin pusat yang evaluasi, kita hanya melaporkan kegiatan hariannya. Ya kalau ada letusan lagi bisa bertambah (ketinggian dan luas GAK),” katanya.
Untuk diketahui berdasarkan, pemantauan aktifitas Gunung Anak Krakatau yang diterima hari ini, Rabu 25 Desember 2019, GAK masih berstatus Waspada atau Level II, dengan jumlah kehempaan sebanyak 11 kali, lalu guncangan tremor yang terekam dengan amplitudo 0.5-5 mm (dominan 1 mm).
Berdasarkan rekaman CCTV di puncak kawah teramati adanya kepulan asap putih dengan ketinggian 50 meter. Masyarakat, nelayan dan wisatawan dihimbau untuk tidak mendekati GAK dalam radius 2 km dari GAK.
Penulis :WR

