Incinerator Dan Mesin Karbon Yang Akan Digunakan Untuk Olah Sampah di TPA Cilowong
Serang, – Pemerintah Kota Serang telah menyetujui untuk menerima sampah dari Tangerang Selatan. Dengan keputusan tersebut, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cilowong akan menampung sampah dari tiga daerah yakni Kota Serang, Kabupaten Serang dan Kota Tangsel.
Sebanyak 400 ton sampah per hari dari Tangsel akan dibuang ke TPA milik Kota Serang tersebut. Diketahui, sejauh ini TPA Cilowong menampung sebanyak 200 ton lebih sampah dari Kabupaten Serang dan 400 ton sampah dari Kota Serang per hari.
Berdasarkan kajian Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang, TPA Cilowong akan mengalami overload pada 2026 mendatang. Lantas langkah apa yang dilakukan Pemkot Serang untuk menangani masalah tersebut?
Kepala DLH Kota Serang Ipiyanto mengatakan, untuk mengantisipasi terjadi overload di TPA Cilowong pihaknya akan menggunakan dua teknologi pengolahan sampah yakni incinerator dan mesin karbon.
“Teknologi pengolahan sampah yang akan kita gunakan model jenisnya incinerator kedua menggunakan teknologi mesin karbon yang sekarang sudah kita lakukan uji coba di TPA itu,” kata Ipiyanto saat dikonfirmasi, Senin (25/1/2021).
Pihaknya akan tetap menggunakan pengolahan sampah menggunakan teknologi incinerator meski dinilai rawan akan menimbulkan penyakit infeksi saluran pernafasan dari debu setelah pengolahan. Teknologi ini tetap dipakai karena mampu mengolah lebih banyak sampah hingga 150 ton per hari.
Sementara, untuk pengolahan menggunakan mesin karbon saat ini sudah masuk tahap uji coba. Ada dua mesin karbon yang sedang beroperasi mengolah sampah Cilowong menjadi bio disinfektan. Namun, daya tampung sampah yang dapat diolah per hari menggunakan mesin karbon hanya 10 ton per hari.
“Keduanya ada residu di sistem pengolahan tapi saya sudah capeknya ini pada saat ingin inovasi tapi masyarakat kita hanya ingin melihat kasat mata,” katanya.
Ipiyanto menjelaskan, alasan pihanya tidak mengolah sampah menjadi gas metan yang bisa dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif, karena, kata Ipiyanto, tidak dapat mengurangi sampah dan memiliki jangka waktu tertentu.
“Kalau sampah diolah jadi listrik, sampahnya pasti ada. Gas metan dijadikan listrik tidak bisa menghilangkan dan mengurangi sampah,”katanya.
Penulis:WR

